Materi 1 : Pengantar E-Marketing
Bayangkan kita kembali ke tahun 1990-an. Saat itu, kalau seseorang ingin membeli sepatu, dia harus pergi ke toko. Pemasaran dilakukan lewat brosur, iklan di koran, radio, atau billboard besar di jalan raya. Semua terasa mahal, jangkauan terbatas, dan komunikasi hanya satu arah: perusahaan bicara, konsumen mendengar.
Lalu datanglah internet. Awalnya hanya dipakai untuk mencari informasi. Tapi pelan-pelan, orang mulai berpikir: “Kalau kita bisa berbagi informasi, kenapa tidak berbagi produk juga?” Dari sinilah lahir E-Marketing sebuah revolusi cara berbisnis yang mengubah segalanya
Mari kita ambil contoh sederhana.
Ada seorang pengusaha kecil di Medan bernama Bu Rina, yang punya usaha brownies rumahan. Dulu, Bu Rina hanya bisa menjual ke tetangga dan teman-temannya. Brosur dicetak, ditempel di warung kopi, harapannya ada yang memesan. Penjualannya terbatas, meski rasanya enak sekali.
Namun, ketika anaknya mengenalkan Instagram, Bu Rina mulai memotret browniesnya, mengunggah foto dengan caption yang menarik, menambahkan nomor WhatsApp, dan menggunakan fitur delivery lewat ojek online. Dalam sebulan, pesanan datang tidak hanya dari Medan, tetapi juga luar kota.
Apa yang terjadi di sini?
Bu Rina bertransformasi dari marketing tradisional ke e-marketing. Ia tidak lagi bergantung pada brosur atau mulut ke mulut. Ia menggunakan kekuatan internet, media sosial, dan aplikasi untuk menjangkau pasar yang lebih luas dengan biaya lebih murah.
Mengapa E-Marketing Berbeda ?
Kalau dulu billboard hanya bisa dilihat oleh siapa saja yang lewat, kini iklan online bisa ditargetkan.
Misalnya, Bu Rina hanya ingin promosinya dilihat oleh perempuan usia 20–35 tahun di Medan yang suka “dessert” atau “kue cokelat”. Dengan Facebook Ads, itu semua bisa dilakukan. Artinya, biaya lebih hemat, hasil lebih tepat.
Inilah keunggulan utama e-marketing:
- Lebih interaktif → konsumen bisa langsung bertanya di kolom komentar.
- Lebih terukur → Bu Rina bisa melihat berapa orang yang klik iklannya.
- Lebih fleksibel → hari ini tren TikTok, besok bisa berubah, dan bisnis bisa menyesuaikan cepat.
Pendorong Lahirnya E-Marketing
Perubahan ini tidak datang begitu saja. Ada faktor besar yang mendorongnya:
- Konsumen berubah → semua orang sekarang mencari produk lewat Google.
- Teknologi berkembang → smartphone ada di tangan hampir semua orang.
- Pandemi COVID-19 → mempercepat semua orang berbelanja online, dari makanan, pakaian, sampai pendidikan.
Tantangan yang Muncul
Namun, jangan dibayangkan semuanya mudah. Bu Rina juga punya tantangan: Banyak kompetitor yang juga menjual brownies online. Algoritma Instagram berubah, postingannya jadi jarang muncul. Ada konsumen yang komplain soal keterlambatan pengiriman. Inilah wajah asli e-marketing: peluang besar, tapi juga penuh tantangan.
Dari kisah Bu Rina, kita bisa menarik pelajaran:
- E-Marketing adalah masa depan. Bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan.
- Bisnis kecil sekalipun bisa besar jika pandai memanfaatkan internet.
- Mahasiswa manajemen harus siap: bukan hanya belajar teori pemasaran, tetapi juga strategi digital yang relevan dengan zaman.
---
Pertanyaan tugas pertemuan 1, jawab di edlink waktunya satu pekan
Kalau Anda jadi Bu Rina, apa langkah pertama yang akan Anda lakukan agar bisnis Anda dikenal lebih luas lewat e-marketing? Menurut Anda, apa yang lebih penting di era digital: kualitas produk atau kemampuan promosi online?

Posting Komentar untuk "Materi 1 : Pengantar E-Marketing"