STRATEGI PENGUATAN SOFT SKILL MELALUI PERBAIKAN MINDSET DAN BELIEF
Perspektif manajemen sumber daya manusia yang paling
mendasar adalah asumsi keberhasilan sebuah kinerja organisasi dipengaruhi oleh
tindakan dan peran manajemen sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh
organisasi. Organisasi dapat menjadikan
pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dan komitmen pegawainya sebagai kunci
sukses dalam menghadapi persaingan, dimana pemilihan strategi organisasi akan
berkaitan erat dengan sumber daya manusia sebagai pelakunya karena sebaik
apapun strategi yang direncanakan untuk digulirkan oleh suatu organisasi bila
tidak didukung oleh sumberdaya manusia yang qualified dan handal maka tidak akan
menghasilkan kinerja yang efektif. Sumber daya manusia memberikan tenaga,
pikiran, bakat, kreatifitas serta usaha mereka kepada organisasi.
Manajemen sumber daya manusia didasari pada suatu konsep bahwa setiap pegawai adalah manusia bukan mesin dan bukan semata menjadi sumber
daya bisnis. Manusia selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan
organisasi, karena manusia adalah faktor produksi yang dapat mengelola faktor
produksi organisasi yang lainnya termasuk manusia itu sendiri sehingga manusia
menjadi perencana, pelaku dan penentu terwujudnya tujuan organisasi. Tujuan
organisasi ini tidak mungkin terwujud tanpa peran aktif dari pegawai, meskipun organisasi memiliki faktor produksi lainnya dengan baik, seperti modal yang
besar, tegnologi yang canggih, dan lain-lain. Semua itu
tidak akan memberikan manfaat bila tidak disertai dengan sumber daya manusia
yang berkualitas.
Dalam diagnosis pengembangan
organisasi bahwa kemajuan dan keberhasilan organisasi sangat tergantung pada aspek hard skill dan soft skill nya. Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang
unggul adalah mereka yang tidak sekedar memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam
aspek soft skill nya. Dunia pendidikanpun
mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika
Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh
pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang
lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan,
kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill. Berbagai tulisan di jurnal mengemukakan hal yang sama,
bahwa 20% kesuksesan seseorang
diperkirakan berasal dari intelegensia yaitu kemampuan untuk belajar dan
memahami. Sementara itu, 80% sisanya berasal dari kemampuan untuk memahami diri
sendiri dan berinteraksi dengan orang lain.
Adalah suatu realita bahwa
pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan
hard skill, bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja. Para ahli manajemen
percaya bahwa bila ada dua orang dengan bekal hard skill yang sama, maka yang akan menang dan sukses di masa depan
adalah dia yang memiliki soft skill lebih baik. Mereka adalah benar-benar sumber daya manusia
unggul, yang tidak hanya semata memiliki hard skill baik tetapi juga didukung oleh soft skill yang tangguh.
Umumnya kelemahan dibidang soft skill berupa karakter yang melekat
pada diri seseorang. Butuh usaha keras untuk mengubahnya. Namun demikian soft
skill bukan sesuatu yang stagnan. Kemampuan ini bisa diasah dan ditingkatkan
seiring dengan pengalaman kerja. Ada banyak cara meningkatkan soft skill. Salah
satunya melalui learning by doing. Selain itu soft skill juga bisa diasah dan ditingkatkan dengan cara mengikuti
pelatihan-pelatihan maupun seminar-seminar manajemen. Meskipun, satu cara ampuh
untuk meningkatkan soft skill adalah dengan berinteraksi dan melakukan aktivitas dengan
orang lain.
Soft skill adalah keterampilan
seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (inter personal skills) dan keterampilan dalam mengatur
dirinya sendiri (intra personal skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara
maksimal. Masih
terdapat kemampuan tambahan seseorang diluar dari interpersonal
skills
dan intra personal skills yang disebut ekstra personal
skills
seperti kemampuan seseorang dalam spritual inteligence (SQ). Contoh softskill adalah pribadi
dan perilaku interpersonal yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia
misalnya, pelatihan, pembentukan tim, pengambilan keputusan, inisiatif. Contoh
lain dari keterampilan-keterampilan yang dimasukkan dalam kategori soft skills adalah integritas, motivasi,
etika, kerja sama dalam tim, kepemimpinan, kemauan belajar, komitmen,
mendengarkan, tangguh, fleksibel, komunikasi lisan, jujur, berargumen logis,
tahan banting, kompetisi, ulet, dan lainnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa pengertian soft skill yaitu kemampuan seseorang dalam
berhubungan dengan orang lain (inter personal skills) dan kemampuan seseorang dalam
mengatur dirinya sendiri (intra personal skills) serta kemampuan tambahan
seseorang dalam kepercayaan/kepedulian baik terhadap penciptanya maupun orang
lain (ekstra personal skills). Keterampilan-keterampilan
tersebut umumnya berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. Sifat soft skills meliputi nilai yang dianut,
motivasi, perilaku, kebiasaan, karakter dan sikap. Sifat ini dimiliki oleh
setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh kebiasaan
berfikir, berkata, bertindak dan bersikap. Tapi, sifat ini dapat berubah jika
individu tersebut mau mengubahnya dengan cara berlatih dan membiasakan diri
pada hal-hal yang baik dan positif.
MEMPERBAIKI
SOFT SKILL DENGAN PERBAIKAN MINDSET DAN BELIEF
Mindset adalah pola berfikir yang di
miliki manusia dalam merespon suatu peristiwa yang di hadapi dalam
kehidupannya. Jika pola berfikirnya positif maka responnya akan positif. Pola
berfikir ini di peroleh dari keseluruhan aktivitas manusia dari apa yang di lihat,
di dengar dan di rasakan sejak sejak kecil hingga usianya saat ini. Pola
berfikir yang semakin kuat dalam merespon suatu peristiwa akan menjadi belief
atau keyakinan yang tidak mudah untuk di rubah. Secara teoritis belief didefinisikan
sebagai penerimaan akan kebenaran sesuatu pemahaman oleh pikiran bahwa sesuatu
adalah benar dan nyata dan keyakinan seseorang bahwa sesuatu itu baik dan
benar. Dengan kata lain belief adalah sesuatu yang di yakini
kebenarannya.
Secara
singkat ada beberapa hal yang menciptakan terjadinya sebuah belief system yang
mengakar kuat dalam diri manusia. (1). Terbentuk karena adanya informasi yang
berulang-ulang (repetisi), sehingga akhirnya menembus critical area dan
masuk ke pikiran bawah sadar. (2). Terbentuk karena informasi yang disampaikan
oleh figur yang dipandang kompeten (tenaga pengajar, pakar, ilmuwan) atau
memiliki otoritas (orang tua, kakak, guru, pemimpin, orang kaya dll) (3).
Terbentuk karena Informasi yang diterimanya merupakan identifikasi yang
diberikan dari keluarga atau kelompok sosialnya. Hal-hal yang dipercayai oleh
keluarga atau kelompok sosial lain dari seseorang akan mudah diterima pula bagi
pikiran bawah sadar tersebut. (4). Terbentuk karena Informasi yang diterimanya
diberikan lewat suasana emosional yang tinggi dan mendukung (senastional
feeling). Hal ini mudah ditemui pada kegiatan orasi yang dilakukan dengan
emosional, seminar motivasi yang menggugah, semangat, kegiatan family
gathering yang menggembirakan dan lain-lain. (5). Terbentuk karena
informasi diterima dalam keadaan alpha (relaks) sehingga mengakibatkan kondisi
hipnosis. Dalam hal ini tentu telah kita ketahui bersama, pada kondisi hipnosis
kita mudah menerima sugesti. Yang lebih digaris bawahi adalah kondisi hipnosis
yang terbentuk secara tidak sengaja, misalnya menerima informasi saat kita
menjelang tidur dan sebagainya. Dalam kondisi ini sebuah informasi tersebut
mudah masuk ke pikiran bawah sadar dan menjadikannya sebagai sebuah sugesti
yang tidak disengaja.
Maka
untuk merubah sistem belief ini, agar pegawai menjadi lebih efektif dan
produktif sehingga tidak sekedar baik tetapi hebat dan produktif maka
perusahaan harus memiliki aktivitas rutin positif yang di lakukan secara
berulang-ulang (reptition) sehingga menjadi budaya organisasi, misal
membangun kebiasaan jika bertemu dengan sesama pegawai di mulai dengan senyum,
sapa dan salam. Kemudiaan tetap melaksanakan rapat secara on time walau
belum semua yang hadir. Kemudiaan adanya kegiatan rutin yang bersifat membangun
hubungan emosional dan spritual pegawai bisa berupa pengajian atau arisan rutin
pegawai, dll.
Berikutnya
karena sistem belief juga terbentuk dari adanya Informasi yang diterima oleh
figur yang dipandang memiliki otoritas, maka para pimpinan harus memiliki
kharisma dan keteladanan yang baik sehingga setiap ucapan dan tindakan pimpinan
yang positif, akan masuk ke dalam otak bawah sadar pegawai yang berujung
menjadi prilaku positif pegawai. Banyak kegagalan pembentukan karakter positif
pegawai karena pimpinan tidak memberikan contoh yang baik kepada pegawainya.
Kemudian
sistem belief yang terbentuk dari pengaruh otoritas sosial/kelompok, maka
perusahaan harus dapat menciptakan suasa lingkungan kerja yang positif dan
produktif, ini akan berpengaruh kepada seluruh prilaku pegawai untuk bekerja
lebih efektif dan produktif. Sebagaimana mengapa tidak ada orang yang berani
melanggar traffic light di jalan-jalan di Singapura karena semua orang
punya kesadaran yang tinggi terhadap ketertiban berlalu lintas sehingga
berpengaruh kepada yang lain. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku
individu, ini di buktikan dengan percobaan yang di lakukan terhadap kutu
anjing. Kutu anjing dapat melompat 100 x tinggi badannya, namun ketika di
letakkan di dalam kotak korek api selama Dua minggu maka kemampuan melompatnya
menjadi jauh berkurang, karena setiap dia melompat ada bagian yang
mengahalanginya. Jika kita membuat lingkungan kerja kita korup, tidak disiplin,
tidak produktif, tidak menghargai waktu, maka semua orang akan berprilaku sama.
Ini yang menyebabkan prilaku manusia dapat berubah sesuai dengan kondisi
lingkungannya karena adanya pengaruh dari otoritas sosial.
Sedangkan
merubah belief pegawai dari aktivitas sensational feeling adalah dengan
memberikan kegiatan-kegiatan training motivasi yang menggugah, kegiatan family
gathering yang membahagiakan, memberikan perhatian yang dalam dan emosional
kepada pegawai, apakah saat ulang tahun, sakit, melahirkan atau adanya keluarga
yang mendapatkan kemalangan. Jika perasaan bahagia itu muncul dari kebersamaan
yang terjadi perusahaan tersebut, maka pegawai akan merasa ingin terus berada
di perusahaan tersebut dan mudah untuk di arahkan agar menjadi lebih efektif
dan produktif. Terakhir membentuk belief dari kondisi hypnosis, sebenarnya ini
hal bisa dilakukan dengan metode hypnotrapis
yang di lakukan oleh mereka yang profesional dalam memberikan terapis kepada
pegawai yang perlu mendapatkan terapis mentalitas.
LANDASAN TEORI SOFT SKILL
Menurut Pumphrey dan Slatter
(2002) dalam artikel Teguh Wijaya menengarai bahwa soft skill memiliki karakteristik sebagai
berikut:
·
Bersifat generik, dalam arti digunakan dalam berbagai penyelesaian
tugas yang berbeda.
·
Dapat ditransfer dan diterapkan dalam berbagai aktivitas pelaksanaan
tugas, disebut juga sebagai keterampilan hidup (life skills).
·
Merupakan keterampilan atau atribut yang terdapat dalam aktivitas
seperti pemecahan masalah, komunikasi, pemanfaatan teknologi, dan bekerja dalam
kelompok.
- Dapat dipromosikan sebagai keterampilan yang memberi kontribusi dalam ‘pembelajaran seumur hidup. (life long learning’).
- Dapat dimiliki dan digunakan oleh pengusaha dan organisasi pemerintah.
- Dapat ditransfer dalam berbagai konteks yang berbeda oleh orang-orang yang memiliki latar belakang disiplin ilmu, profesi dan jabatan yang berbeda-beda.
Di dalam persaingan seperti sekarang, kebutuhan akan tenaga
kerja yang memiliki profesionalisme dan manajerial skill yang berbasis
kemampuan sudah merupakan tuntutan. Terlebih di dunia kerja sekarang banyak
dipengaruhi perubahan pasar, ekonomi dan teknologi. Tenaga kerja yang memiliki
kecerdasan emosional (Emotional Quatient) sangat mendukung pemenuhan kebutuhan
tersebut disamping kecerdasan intelektual. Berdasar hasil survey Nasional Assosiation of
Colleges and Employers USA (2002) terhadap 457 pimpinan perusahaan menyatakan bahwa
Indeks Kumulatif Prestasi (IPK) bukanlah hal yang dianggap penting dalam dunia
kerja. Yang jauh lebih penting adalah sotf skill antara lain kemampuan komunikasi, kejujuran, kerjasama,
motivasi, kemampuan beradaptasi dan kemampuan inter personal dengan orientasi nilai pada kinerja yang efektif.
Kemampuan soft skill diatas, sebetulnya masuk dalam kecerdasan emosional yang
menurut definisi adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan orang
lain, kemampuan memotivasi diri, Kemampuan mengendalikan diri/ mengelola emosi
pada diri sendiri dalam hubungan dengan orang lain (Daniel Goleman). Ada lima kecedasan emosial
yang dibutuhkan didunia kerja sekarang ini, yaitu :
- Kesadaran emosional yang meliputi kedewasaan emosi dalam pengambilan keputusan yang win-win solution.
- Pengelolaan Emosional (pengedalian diri) yang meliputi kemampuan kepekaan, sabar dan tabah dalam menjalankan tugas.
- Motiovasi Diri, yang meliputi kemampuan berpikir positif, ulet dan pantang menyerah
- Empati pada sesama yang meliputi kemampuan memahami, merasakan, peduli, hangat, akrab dan kekeluargaan
- Ketrampilan sosial , yang meliputi kemampuan bermusyawarah, bekerjasama, kepentingan umum/tim.
Di sisi lain secara teori, di dalam dunia kerja, ada 3
(tiga) unsur utama yang harus dipenuhi agar seseorang dikatakan memiliki
kompetensi yang meliputi kompetensi knowledge atau cognitive domain, skill atau psychomotor domain, serta attitude atau affective domain (Jayagopan Ramasamy, Malaysia 2006). Dalam teori
tersebut dikatakan bahwa kompetensi tersebut harus bisa diukur (measurable),
dinilai, ditunjukkan (demaonstrable) dan diamati (observable) melalui perilaku
pada saat melaksanakan tugas. Sasaran akhir dari kompetensi adalah perilaku
yang diharapkan (desired behaviour) dan perlu ditunjukkan dalam melaksanakan tugas.
kompetensi yang berkaitan langsung dengan bidang kerja.
Selain itu menurut Spencer & specer ada 2 (dua)
kompetensi yang berkaitan dengan bidang kerja, yakni Generic competencies, merujuk pada kompetensi yang
perlu ada pada semua pegawai mengarah ke softskills, sikap mental dalam bekerja
dan Functional competencies, merujuk pada kompetensi khusus
yang diperlukan bagi suatu fungsi atau pekerjaan tertentu mengarah ke
hardskills dan kemampuan teknis. Sedangkan di lapangan, kompetensi tersebut
terbagi atas kebutuhan kemampuan Knowledge: diukur melalui ujian penilaian yang dilaksanakan oleh
pihak berwenang, Skill : diukur dengan mengikutsertakan ke dalam
pelatihan-pelatihan tertentu dan Attitude: diukur secara lebih subjektif melalui penilaian terhadap
perilaku yang ditunjukkan dalam melaksanakan tugas. Knowledge (melalui pendidikan), Skill (melalui pelatihan) dan Attitude yg harus dimiliki oleh tenaga
kerja disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha/dunia kerja dengan menggunakan
konsep Link and Match.
Sedangkan ketrampilan soft skill tenaga kerja, dalam perkembangannya banyak disumbang oleh
karakter pribadi yang berasal dari didikan lingkungan keluarga (pola asuh),
tradisi dan pengaruh lingkungan sekolah (sosial). Di beberapa perusahaan,
ketrampilan soft
skill yang dibutuhkan meliputi leadership, kreativitas, komunikasi,
kejujuran dan fleksibel. Memang dalam prakteknya ketrampilan soft skill dapat
dilatih dan disiapkan, namun menurut pengalaman dari PT Charoen Pokphand
Indonesia misalnya, perubahan-perubahan dalam organisasi termasuk budaya
organisasi juga dapat menyumbang terhadap peningkatan soft skill tenaga kerja. Pembinaan soft skill yang baik, menurut pengalaman
PT. Charoen dengan komunikasi asertif, yaitu komunikasi yang berdasar
keterbukaan, jujur, tegas, langsung dan dengan cara yang sopan.
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh negara-negara Inggris, Amerika dan Kanada, ada 23 atribut soft skills yang dominan di lapangan kerja.
Ke 23 atribut tersebut diurut berdasarkan prioritas kepentingan di dunia kerja,
yaitu : (1) inisiatif, (2) etika/integritas, (3) berfikir kritis, (4). kemauan belajar, (5) komitmen, (6) motivasi, (7)
bersemangat, (8) dapat
diandalkan, (9) komunikasi
lisan, (10) kreatif, (11) kemampuan analitis, (12) dapat mengatasi stres, (13) manajemen diri, (14) menyelesaikan persoalan, (15) dapat meringkas, (16) berkoperasi, (17) fleksibel, (18) kerja dalam tim, (19) mandiri, (20) mendengarkan, (21)
tangguh, (22)
berargumentasi logis, (23) manajemen
waktu.
Berikut ini adalah
31 soft
skill
menurut Badan Kepegawaian Negara
No : 46 A Tahun 2003 yakni : (1) berfikir analitis, (2) berfikir konseptual, (3) Inisiatif, (4) memiliki keahlian teknikal, (5) komitmen terhadap organisasi, (6) kreatif dan inovatif, (7) mencari informasi, (8) mengambil resiko, (9) proaktif, (10) percaya diri, (11) pengambil keputusan, (12) pengambilan keputusan strategis, (13) perbaikan terhadap keteraturan, (14) pengaturan kerja, (15) semangat untuk berprestasi, (16) perbaikan terus menerus, (17) pembelajar yg berkelanjutan, (18) berorientasi pada pelayanan, (19) berorientasi pada kualitas, (20) empati, (21) komunikasi, (22) mengarahkan dan memberikan perintah, (23) manajemen konflik, (24) membangun hubungan kerja, (25) membangun hubungan kerja strategik, (26) membimbing, (27) memimpin kelompok, mengembangkan orang lain, (28) pendelegasian wewenang, (29) tanggap akan pengaruh budaya, (30) kesadaran berorganisasi, (31) memimpin rapat.
No : 46 A Tahun 2003 yakni : (1) berfikir analitis, (2) berfikir konseptual, (3) Inisiatif, (4) memiliki keahlian teknikal, (5) komitmen terhadap organisasi, (6) kreatif dan inovatif, (7) mencari informasi, (8) mengambil resiko, (9) proaktif, (10) percaya diri, (11) pengambil keputusan, (12) pengambilan keputusan strategis, (13) perbaikan terhadap keteraturan, (14) pengaturan kerja, (15) semangat untuk berprestasi, (16) perbaikan terus menerus, (17) pembelajar yg berkelanjutan, (18) berorientasi pada pelayanan, (19) berorientasi pada kualitas, (20) empati, (21) komunikasi, (22) mengarahkan dan memberikan perintah, (23) manajemen konflik, (24) membangun hubungan kerja, (25) membangun hubungan kerja strategik, (26) membimbing, (27) memimpin kelompok, mengembangkan orang lain, (28) pendelegasian wewenang, (29) tanggap akan pengaruh budaya, (30) kesadaran berorganisasi, (31) memimpin rapat.
Sesuai
klasfikasi soft skill itu sendiri yakni ada aspek intra
personal skill dan interpersonal
skill,
berikut ini uraian dari masing-masing aspek tersebut.
Aspek Intra Personal Skill
1. Berfikir analitis
Mampu memahami situasi atau
masalah kerja dengan menguraikannya menjadi urutan tugas, mampu
mengidentifikasi indikator-indikator yang menyebabkan terjadi situasi atau
masalah tersebut, dan dapat menguraikan masalah-masalah tersebut menjadi bagian-bagian
yang lebih rinci agar mudah di pahami, menemukan hubungan sebab akibat dari
suatu masalah, dan mengkaji konsekuensi dari setiap tindakan.
2. Berfikir
konseptual
Mampu untuk
mengolah data yang beragam dan tidak lengkap menjadi informasi yang jelas,
serta mampu mengidentifikasi pokok permasalahan dan dapat menciptakan
konsep-konsep baru.
3. Berfikir konseptual
Mampu untuk mengolah data yang
beragam dan tidak lengkap menjadi informasi yang jelas, serta mampu
mengidentifikasi pokok permasalahan dan dapat menciptakan konsep-konsep baru
4. Inisiatif
Mampu melakukan tindakan dengan
cepat tanpa menunggu perintah lebih dahulu untuk mencapai tujuan/sasaran unit
organisasi, tindakan ini dilakukan untuk mencapai sasaran melampaui dari yang
di isyaratkan
5. Memiliki keahlian teknikal
Mampu penguasaan bidang
pengetahuan yang terkait dengan pekerjaan berupa teknik, manajerial maupun
profesional, serta memiliki motivasi untuk menggunakan dan mengembangkan serta
memberikan pengetahuan yang terkait dengan pekerjaan orang lain
6. Komitmen terhadap
organisasi
Mampu untuk menyelaraskan sikap
dan prilaku dengan mengutamakan kepentingan organisasi dalam rangka mewujudkan
visi dan misi organisasi
7. Kreatif dan inovatif
Mampu mengembangkan
pemikiran-pemikiran baru untuk pengembangan organisasi, dengan memacu
kreativitas serta berfikir bahwa ada yang lebih baik dari yang sebelumnya
8. Mencari informasi
Mampu
mengumpulkan data/informasi yang di butuhkan untuk menunjang kelancaran
pelaksanaan pekerjaan dan pengambil keputusan
9. Mengambil resiko
Mampu dalam
hal keberanian melakukan tindakan yang di dasarkan pada perhitungan manfaat
maupun dampak yang di timbulkan oleh tindakan tersebut
10.Proaktif
Mampu untuk bertindak melebihi
yang di butuhkan atau yang di tuntut oleh pekerjaan dengan melakukan sesuatu
tanpa menunggu perintah lebih dahulu
11. Percaya diri
Mampu pada
kemampuan diri sendiri dalam melaksanakan tugas pekerjaan
12. Pengambil keputusan
Mampu
melakukan identifikasi terhadap masalah-masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan
pekerjaan dan menentukan tindakan yang tepat dalam rangka pencapaian tujuan
13. Pengambilan keputusan
strategis
Mampu
mengikuti perkembangan lingkungan, mengidentifikasi masalah-masalah utama yang
di hadapi organisasi dan menentukan tindakan-tindakan strategis untuk
mewujudkan visi dan misi organisasi
14. Perbaikan terhadap
keteraturan
Mampu untuk mengatasi
ketidakpastian khususnya terkait dengan penugsan, kualitas dan ketepatan dan
dan informasi di tempat kerja
15. Pengaturan kerja
Mampu melaksanakan
pekerjaan yang efesien dengan efektivitas waktu dan sumber daya seseorang
16. Semangat untuk berprestasi
Mampu melaksanakan pekerjaan
dengan lebih baik untuk meningkatkan kinerja secara efektif dan efesien
17. Perbaikan terus menerus
Mampu melakukan tindakan
perbaikan secara terus menerus dengan menggunakan cara-cara yang tepat agar
pekerjaan dapat terlaksana dengan efesien dan efektif
18. Pembelajar yg
berkelanjutan
Mampu mencari dan menerapkan
pengetahuan baru untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas
Aspek Inter Personal Skill
1. Berorientasi pada pelayanan
Mampu memenuhi kebutuhan orang
lain, menindaklanjuti kebutuhan orang lain, memberikan pelayanan dengan cepat
dan tepat, mencari informasi mengenai kebutuhan yang sifatnya mendasar dan
spesifik untuk menyesuaikan kebijakan pelayanan yang ada serta memilki program
pelayanan jangka panjang
2. Berorientasi pada kualitas
Mampu melaksanakan tugas dengan
akurat dan penuh ketelitian sesuai dengan prosedur yang berlaku
3. Empati
Mampu untuk mendengarkan dan
memahami fikiran, perasaan, atau masalah orang lain yang tidak terungkapkan
atau tidak sepenuhnya di sampaikan
4. Komunikasi
Mampu menyampaikan informasi atau
pendapat dengan jelas kepada pihak lain, dan membantu mereka memahami informasi
atau pendapat yang di sampaikan
5. Mengarahkan dan memberikan
perintah
Mampu memberi petunjuk secara
rinci dan jelas tentang tugas yang di harapkan, kemampuan memberikan ketegasan
menolak permintaan yang tidak masuk akal, dapat meminta kepatuhan atas perintah
dengan pengawasan yang ketat
6. Manajemen konflik
Mampu mengatasi konflik yang
terjadi pada orang lain dengan menyesuaikan nilai-nilai yang ada pada
orang-orang tersebut untuk mengatasi konflik yang terjadi
7. Membangun hubungan kerja strategik
Mampu mengembangkan dan
melaksanakan hubungan kerja sama untuk mencapai tujuan organisasi
8. Membangun hubungan kerja
Mampu menjalin hubungan dengan
pihak-pihak lain yang berkaitan dengan pekerjaam, memprakasi
pembicaraan-pembicaraan ringan yang berhubungan dengan hal yang umum seperti
keluarga, olah raga, musik, berita koran dan sbg nya serta mampu membangun
kesepakatan dengan pihak-pihak yang terkait mengenai pekerjaan yang akan di
laksanakan
9. Membimbing
Mampu
memberikan bimbingan dan umpan balik secara teratur terhadap bawahan agar
bekerja secara terarah sesuai dengan rencana dan mampu menjelaskan tugas secara
rinci agar bawahan dapat melakukan tugasnya dengan baik dan mampu mendorong
bawahan agar bekerja optimal, patuh terhadap perintah
10. Memimpin kelompok
Mampu
untuk berperan sebagai pemimpin kelompok kerja untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan
11. Mengembangkan orang lain
Mampu melakukan upaya mendorong
pengembangan orang lain agar berkerja lebih optimal
12. Pendelegasian wewenang
Mampu
melimpahkan kewenangan pengambilan keputusan kepada bawahan secara tepat agar
pelaksanaan pekerjaan lebih efektif dan efesien
13. Tanggap akan pengaruh budaya
Mampu menghargai keragraman
budaya dan perbedaannya yang menjadi latar belakang individu dengan tidak
mempertentangkan budaya-budaya yang ada
dan bahkan dapat menjadi potensi untuk pencapaian tujuan organiasi
14. Kesadaran berorganisasi
Mampu mengenali dan dapat
memanfaatkan struktur formal atau hirarkhi suatu organisasi, rantai perintah
kekuasaan setiap jabatan, peraturan serta standar operasi prosedur
15. Memimpin rapat.
Mampu memimpin rapat atau
pertemuan dengan menggunakan metode hubungan antar manusia untuk mengembangkan
ide0ide dari peserta rapat guna pencapaian tujuan

Posting Komentar untuk "STRATEGI PENGUATAN SOFT SKILL MELALUI PERBAIKAN MINDSET DAN BELIEF"