3 Cara Berfikir yang Paling di Butuhkan untuk Sukses
1. Berpikir
Logis
Berpikir secara logis
adalah suatu proses berpikir dengan menggunakan logika, rasional dan
masuk akal. Secara etymologis logika berasal dari kata logos yang mempunyai dua
arti 1) pemikiran 2) kata-kata. Jadi logika adalah ilmu yang mengkaji
pemikiran. Karena pemikiran selalu diekspresikan dalam kata-kata, maka logika
juga berkaitan dengan “kata sebagai ekspresi dari pemikiran”. Dengan berpikir
logis, kita akan mampu membedakan dan mengkritisi kejadian-kejadian yang
terjadi pada kita saat ini apakah kejadian-kejadian itu masuk akal dan sesuai
dengan ilmu pengetahuan atau tidak. Tidak hanya itu, seorang peserta didik juga
harus mampu berpikir kritis sehingga ia mampu mengolah fenomena-fenomena yang
diterima oleh sistem indera hingga dapat memunculkan berbagai pertanyaan yang
berkaitan dan menggelitik untuk dicari jawabannya.
Contoh real-nya ketika
seorang siswa atau peneliti melakukan metode ilmiah, maka pelaku ilmiah ini
harus melakukan kegiatan ilmiah ini dengan berpikir secara logis, mulai dari
saat pelaku ilmiah melakukan observasi/ pengamatan, merumuskan masalah,
menyusun hipotesis, melaksanakan penelitian, mengumpulkan data, mengolah dan
menganalisis data, hingga menarik kesimpulan. Seluruh proses kerja ilmiah
tersebut harus dikerjakan berdasarkan prinsip yang logis, rasional, dan masuk
akal agar dapat dipertanggungjawabkan.
Cara berpikir logis yang
biasa dikembangkan, dapat dibagi menjadi dua, yaitu berpikir secara deduktif
dan berpikir secara induktif. Logika deduktif adalah penarikan kesimpulan yang
diambil dari proposisi umum ke proposisi khusus. Sederhananya kata umum-khusus.
Adapun logika induktif kebalikan dari logika deduktif. Jenis logika ini harus
mengikuti penalaran yang berdasarkan pengalaman atau kenyataan. Artinya, jika
tidak ada bukti maka kesimpulannya belum tentu benar atau pasti. Dengan
demikian, dia tidak akan mempercayai suatu kesimpulan yang tidak berdasarkan
pengalaman atau kenyataan lewat tangkapan panca indranya.
2. Berpikir Kritis
Berpikir kritis (critical
thinking) adalah sinonim dari pengambilan keputusan (decision making),
perencanaan strategik (strategic planning), proses ilmiah (scientific process),
dan pemecahan masalah (problem solving). Berpikir kritis merupakan upaya
pendalaman kesadaran serta kecerdasan membandingkan dari beberapa masalah yang
sedang dan akan terjadi sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan
yang dapat memecahkan masalah tersebut. setiap orang memiliki pola pikir yang
berbeda. Akan tetapi, apabila setiap orang mampu berpikir secara kritis,
masalah yang mereka hadapi tentu akan semakin sederhana dan mudah dicari
solusinya.
Berpikir kritis mengandung
makna sebagai proses penilaian atau pengambilan keputusan yang penuh pertimbangan
dan dilakukan secara mandiri. Peter Facione, mengemukakan bahwa berpikir kritis
merupakanpProses perumusan alasan dan pertimbangan mengenai fakta,
keadaan, konsep, metode dan kriteria. Richard Paul mendefinisikan berpikir
kritis sebagai proses merumuskan alasan yang tertib secara aktif dan
terampil dari menyusun konsep, mengaplikasikan, menganalisis, mengintegrasikan
(sintesis), atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan melalui proses
pengamatan, pengalaman, refleksi, pemberian alasan (reasoning) atau komunikasi
sebagai dasar dalam menentukan tindakan.
Menurut Halpen (dalam
Achmad, 2007) menyatakan bahwa berpikir kritis adalah memberdayakan
keterampilan atau strategi kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut
dilalui setelah menentukan tujuan, mempertimbangkan, dan mengacu langsung
kepada sasaran-merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka
memecahkan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan,
dan membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara
efektif dalam konteks dan tipe yang tepat. Berpikir kritis juga merupakan
kegiatan mengevaluasi, mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala
menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan.
Berpikir kritis ini juga
biasa disebut dengan directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus
yang akan dituju. R. Matindas (dalam Sarwono, 2009) menyatakan bahwa:
“Berpikirkritisadalah aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi
kebenaran sebuah pernyataan. Umumnya evaluasi berakhir dengan putusan untuk
menerima, menyangkal, atau meragukan kebenaran pernyataan yang bersangkutan”.
Hal terpenting yang perlu
diperhatikan dalam konsep berpikir kritis bahwa dalam proses berpikir kritis,
seseorang dapat dikatakan sedang mengevaluasi bahan atau topic yang sedang
dibahas. Sebab dalam proses berpikir kritis, seseorang akan mengalami berbagai
pertimbangan dari berbagai aspek untuk menentukan suatu tujuan yang
menghasilkan jawaban yang disampaikan. Selain mampu berpikir logis dan kritis,
seorang peserta didik juga harus mampu berpikir kreatif.
3. Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif ini
merupakan suatu kepiawaian pola berpikir kita yang didasari dengan pemahaman
yang mendalam tentang konsep-konsep yang telah diketahui sebelumnya dan
kemudian memberikan suatu perubahan. Kata “kreatif” merupakan kata yang berasal
dari bahasa Inggris To Create, yang merupakan singkatan dari Combine
(menggabungkan) penggabungan suatu hal dengan hal lain, Reverse (membalik
membalikan beberapa bagian atau proses, Eliminate (menghilangkan) menghilangkan
beberapa bagian
Alternatif (kemungkinan) menggunakan cara, bahan dengan yang lain. Twist (memutar) memutarkan sesuatu dengan ikatan
Elaborate (memerinci) memerinci atau menambah sesuatu.
Alternatif (kemungkinan) menggunakan cara, bahan dengan yang lain. Twist (memutar) memutarkan sesuatu dengan ikatan
Elaborate (memerinci) memerinci atau menambah sesuatu.
Berpikir kreatif berarti melepaskan
diri dari pola umum yang sudah tertanam dalam ingatan. Mampu mencermati sesuatu
yang luput dari pengamatan orang lain. Menurut John Adair kreativitas adalah
daya pikir dan semangat yang memungkinkan kita untuk mengadakan sesuatu yang
memiliki kegunaan, tatanan, keindahan, atau arti penting dari sesuatu yang
kelihatannya tidak ada. Kendatipun kita sepakat bahwa kreativitas itu memang
perlu dikembangkan, namun kadang-kadang kita memandang istilah kreativitas itu
sebagai sesuatu yang berbeda satu sama lain, yang dapat menyebabkan kaburnya
makna essensial dari istilah ini.
Pandangan atau pemahaman
tentang kreativitas yang berbeda itu menurut Dedi Supriadi (1992:1) disebabkan
karena dua hal. Pertama, sebagai suatu “konstruk hipotesis” kreativitas
merupakan ranah psikologis yang kompleks dan multi dimensional, yang mengundang
banyak penafsiran. kedua, definisi-definisi kreatifitas memberikan penekanan
pada sisi yang berbeda-beda, tergantung dasar teoritis yang menjadi acuan
pembuat definisi.
Perbedaan pemahaman dalam
mengartikan istilah kreatifitas tidak berarti bahwa kita lantas mengambil salah
satu istilah dengan menafikan yang lain, tetapi hendaknya semua dipandang
sebagai sesuatu yang saling melengkapi sehingga kita boleh berharap dengan
melihat berbagai pandangan itu akan tampak kepada kita “kreativitas” sebagai
sesuatu yang utuh menyeluruh.
Telaahan lain terhadap
berbagai definisi dari kreativitas akan memunculkan apa yang kemudian dikenal
sebagai “ Mac Kinnon Tri Partite definition of creativity” sebagai
karekteristik dari kreativitas, yaitu:
1. Melibatkan
penciptaan sesuatu yang baru atau jarang;
2. Mampu
mengidentifikasi arah atau petunjuk ke arah tujuan yang diinginkan, contoh :
merancang gedung hingga benar-benar memiliki ruang yang efisien untuk bekerja;
3. Selalu
berusaha untuk mencapai kesempurnaan atau ketuntasan (Wilson,1974:1930). Kata
“baru” dalam kaitan dengan kreativitas tidak perlu diartikan sesuaru yang
benar-benar baru (sebelumnya belum pernah ada), tetapi dapat saja hasil
ciptaannya itu merupakan kombinasi dari apa-apa yang telah ada sebelumnya. Atau
mungkin pula sesuatu yang baru itu hanya baru bagi orang tersebut, jadi mungkin
saja bagi orang lain bukan hal yang baru (Anderson,1970:90)
Mungkin bagi guru suatu
pemecahan soal tentang materi pelajaran dalam PBM yang dikelolanya adalah bukan
sesuatu yang baru, tetapi bagi muridnya adalah sesuatu yang baru. Ini pun
termasuk salah satu bentuk kreativitas. Selain dari apa yang dikemukakan di
atas, definisi kreativitas juga dapat dibedakan menjadi definisi konsensual dan
definisi konseptual.
Definisi konsensual adalah
bahwa sesuatu itu bernilai kreatif jika oleh pengamat yang ahli dalam bidangnya
sesuatu itu memang bernilai kreatif. Sedangkan definisi konseptual diartikan
bahwa sesuatu itu bernilai kreatif jika secara konseptual sesuatu itu memenuhi
kriteria-kriteria tertentu. Misalnya : a) Produk itu baru, unik , berguna,
benar atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu dan b) Produk itu
bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau
jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya (Amabile, dalam Dedi Supriadi,1992:2).
Anderson (1970) memendang
kreativitas sebagai suatu proses berpikir. Adapun jenis berpikir yang dapat
mencerminkan kreativitas adalah tergolong jenis berpikir divergen (divergent
thinking) seperti terungkap dari apa yang dikemukakan Yelon (1977:232) “ An
important ingredient in creativity is divergent thinking”. Selanjutnya Yelon
(1977:232) dengan diilhami oleh pendapat Guilford menerangkan bahwa “ divergent
thinking is characterized by producing wide variety of alternative solutions,
each of which is logically possible”.
Utami Munandar (1987:48)
merumuskan dalam bahasa yang akrab dengan kita, bahwa “Kreativitas (berpikir
kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berdasarkan data atau
informasi yang tersedia menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu
masalah, di mana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan dan
keragaman jawaban”. Jenis berpikir yang oleh Guilford dinamai berpikir
divergen (divergent thinking) ini tampaknya setali tiga uang dengan jenis
berpikir yang oleh De Bono diberi nama “Lateral thinking” (Berpikir Lateral).
Berpikir lateral atau berpikir menyamping, diberi nama demikian oleh De Bono
untuk mengisyaratkan keragaman kemungkinan jawaban terhadap permasalahan,
sebagai kontradiksi dengan penalaran ilmiah yang oleh De Bono disebut sebagai
berpikir vertikal.
Adapun ciri-ciri berpikir
lateral yang membedakannya dengan berpikir ilmiah, antara lain berpikir
vertikal lebih menekankan pada kebenaran (right), sedangkan lateral menekankan
pada kekayaan ragam. Dalam berpikir vertikal orang bergerak ke arah yang
didefinisikan untuk sampai pada pemecahan masalah, sedangkan lateral bergerak
untuk menghasilkan arah. Berpikir vertikal bersifat
analisis sedangkan lateral bersifat provokatif. Dalam
berpikir vertikal orang melangkah selangkah demi selangkah secara berurutan,
sedangkan lateral dapat membuat lompatan dalam berpikir. Dalam
berpikir vertikal orang harus benar pada setiap langkah sedangkan dalam lateral
tidak perlu. Dalam
berpikir vertikal orang mengikuti jalan yang paling mungkin sedangkan dalam
lateral orang menjajagi jalan yang paling tidak mungkin. Dengan
berpikir vertikal orang berkonsentrasi dan mengesampingkan apa yang tidak
relevan sedang kan dalam lateral orang menyambut baik terobosan yang kebetulan. Dengan
berpikir vertikal kategori, klasifikasi dan label bersifat tetap, sedangkan
dalam lateral tidak. Berpikir vertikal merupakan
proses terbatas sedangkan lateral merupakan proses yang serba mungkin.
Berpikir vertikal dan
berpikir lateral memang secara fundamental berbeda, hal itu tidak berarti bahwa
kita harus memilih salah satu kemudian mengesampingkan yang lain, namun
hendaknya dipandang bahwa satu sama lain saling melengkapi. keduanya perlu
dilatihkan , agar selain memiliki kemampuan penalaran ilmiah yang baik, kitapun
kreatif.
Sebagai kemampuan berpikir
, Guilford mengemukakan bahwa kreatifitas ditandai dengan adanya: Kelancaran
(fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), dan elaborasi
(elaboration) (Rotherberg,1978:200). Kelancaran dimaksudkan sebagai kemampuan
untuk mengemukakan banyak gagasan pemecahan terhadap suatu masalah; Keluwesan
didefinisikan sebagai kemampuan untuk membuat transformasi informasi,
menafsirkan ulang (reinterprate), membuat definisi lain (redifine); kealsian
diartikan sebagai kemampuan untuk membuat gagasan yang alain dari yang lain
(unique); sedangklan elaborasi adalah kemampuan untuk memerinci, mengambangkan
gagasan dan membuat implikasi dari informasi-infornasi yang tersedia.

Posting Komentar untuk "3 Cara Berfikir yang Paling di Butuhkan untuk Sukses"